Rabu, 23 November 2022

Rangkaian Kombinasional

  Hallo Informatik frens! Disini saya akan mengulas sedikit materi tentang Rangkaian Kombinasional. tanpa berlama lama mari kita bahas bareng bareng yaa cekidott!!


Rangkaian Kombinasional

    Rangkaian kombinasional adalah rangkaian yang outputnya hanya tergantung pada input ”pada saat itu”. Pada prinsipnya, rangkaian kombinasional merupakan penerapan dan penerjemah langsung dari aljabar boole, yang biasanya dinyatakan sebagai fungsi logika. Operator logika yang digunakan dalam aljabar boole adalah inversi/negasi (NOT), perkalian logika (AND), penambahan logika (OR).


Ada beberapa Rangkaian logika kombinasional yang akan dibahas adalah Enkoder, Dekoder, Multiplexer, dan Demultiplexer. Berikut penjelasannya :

 

 

1. Enkoder

 

Enkoder adalah rangkaian logika kombinasional yang berfungsi untuk mengubah atau mengkodekan suatu sinyal masukan diskrit menjadi keluaran kode biner.

 

Enkoder disusun dari gerbanggerbang logika yang menghasilkan keluaran biner sebagai hasil tanggapan adanya dua atau lebih variabel masukan. Hasil keluarannya dinyatakan dengan aljabar boole, tergantung dari kombinasi – kombinasi gerbang yang digunakan.

 

Sebuah Enkoder harus memenuhi syarat perancangan m < 2 n . Variabel m adalah kombinasi masukan dan n adalah jumlah bit keluaran sebuah enkoder. Satu kombinasi masukan hanya dapat mewakili satu kombinasi keluaran.

Perhatikan contoh tabel fungsi keluaran Enkoder berikut :







Tabel Fungsi Keluaran Encoder

Tabel Fungsi keluaran enkoder 8 ke 3. Dari tabel diatas, dapat dibuat fungsi keluaran sebagai berikut :

Y0 = I1 + I3 + I5 + I7

Y1 = I2 + I3 + I6 + I7

Y2 = I4 + I5 + I6 + I7

Dari persamaan tersebut, maka rangkaian gerbangnya dapat dibuat seperti pada gambar berikut:


Rangkaian Gerbang Encoder

Encoder merupakan kebalikan dari decoder. Encoder merupakan rangkaian kombinasional yang berfungsi mengubah data yang ada pada inputnya menjadi kode-kode biner pada outputnya. Contoh encoder oktal ke biner atau disebut juga encoder 8 ke 3, berfungsi mengubah data bilangan oktal pada inputnya menjadi kode biner 3-bit pada outputnya. Pada umumnya encoder menghasilkan kode 2-bit, 3-bit atau 4-bit. Encoder n bit memiliki 2nsaluraninput.

Sebagai contoh encoder 2 bit memiliki 22 saluran input.


Encoder 2 Bit

Apabila salah satu dari ke-4 saluran input aktif maka encoder akan menghasilkan kode biner sesuai dengan salurannya. Apabila lebih dari satu saluran input diaktifkan/semua maka outputnya tidak dapat didefinisikan. Untuk kondisi seperti ini, kita dapat mengganggap “don’t care” tetapi pada umumnya hal ini dapat diatasi dengan mengggunakan priority encoder.

Priority encoder adalah rangkaian encoder yang memiliki fungsi prioritas. Hal ini berarti, jika dua atau lebih input sama dengan 1 pada saat yang sama, input yang memiliki subscript number yang tinggi adalah mempunyai prioritas yang tinggi. Sebagai contoh jika D3 adalah 1 berapapun saluran input yang lain maka outputnya adalah 3 yaitu 11. Jika semua input 0, maka tidak ada input yang valid. Untuk mendeteksi situasi ini maka kita membuat output ke 3 dengan nama V. V = 0 jika semua input adalah 0 dan bernilai 1 jika inputnya sesuai dengan situasi pada tabel kebenaran.

Dengan menggunakan tabel kebenaran dan K-map (gambar 7) kita akan mendapatkan fungsi boolean 4-input (or 2-bit) priority encoder, sebagai berikut:

X = D2 + D3

Y = D3 + D1D’2

V= D0 + D1 + D2 + D3

Dengan demikian akan dihasilkan rangkaian logika untuk 2 bit priority encoder seperti yang ditunjukkan pada gambar.

K-map untuk 2 Bit Priority Encoder


Rangkaian Logika untuk 2 Bit Priority Encoder

 

 

2. Multiplexer

 

Rangkaian logika kombinasional Multiplexer atau disingkat MUX adalah alat atau komponen elektronika yang bisa memilih input (masukan) yang akan diteruskan ke bagian output (keluaran). Pemilihan input mana yang dipilih akan ditentukan oleh signal yang ada di bagian kontrol (kendali) Select.

 

 

3. Dekoder

 

Rangkaian Dekoder mempunyai sifat yang berkebalikan dengan Enkoder yaitu merubah kode biner menjadi sinyal diskrit. Sebuah dekoder harus memenuhi syarat perancangan m < 2 n . Variabel m adalah kombinasi keluaran dan n adalah jumlah bit masukan. Satu kombinasi masukan hanya dapat mewakili satu kombinasi keluaran.

 

 

4. Demultiplekser

 

Rangkaian logika kombinasional Demultiplekser adalah Komponen yang berfungsi kebalikan dari MUX. Pada DEMUX, jumlah masukannya hanya satu, tetapi bagian keluarannya banyak. Signal pada bagian input ini akan disalurkan ke bagian output (channel) yang mana tergantung dari kendali pada bagian SELECTnya.

 

Beberapa rangkaian kombinasional yang sering digunakan antara lain :

a. encoderdecoder

c. half adder

d. full adder

e.  half substractor

f. full substractor

g. comparator

h. driver,

i. converter dan lain-lain.


Langkah-langkah perancangan rangkaian kombinasional yaitu:

–  menjabarkan ide-ide.

– Menentukan variabel-variabel masukan/keluaran.

– Mengimplementasikan ide ke dalam tabel kebenaran.

– Penyederhanaan fungsi Boolean.

– Implementasikan ke dalam rangkaian logika.


CONTOH 1:

Perancangan pengatur suhu pada suatu ruangan produksi.

Langkah 1: Penjabaran ide

Untuk menjaga suhu suatu ruangan produksi di suatu industri diperlukan sistem alarm. Kondisi normal temperatur rungan (T) tersebut adalah 120 C, tekanan (P) 5 atm dan kelembaban (D) 10%. Sistem alarm akan berkerja bila temperatur < 120 C dan tekanan < 5 atm serta kelembaban > 10%, atau < 120 C dan tekanan > 5 atm serta kelembaban < 10%, atau > 120 C dan tekanan < 5 atm serta kelembaban > 10%, atau > 120 C dan tekanan > 5 atm serta kelembaban < 10%. Sistem alarm tersebut digunakan oleh komputer sebagai sinyal masukan untuk mengembalikan kondisi ruangan menjadi kondisi normal kembali.

Langkah 2: Jumlah variabel masukan dan keluaran yang dibutuhkan

Terlihat bahwa terdapat 3 variabel masukan yaitu temperatur (T), tekanan (P) dan kelembaban (D) dan 1 variabel keluaran yaitu kondisi alarm untuk sistem alarm. Sehingga dibutuhkan 3 sensor sebagai masukan untuk mendeteksi keadaan 3 variabel tersebut.

Langkah 3: Mengimplementasikan ide ke dalam tabel kebenaran

Dimisalkan tabel kebenaran untuk sensor yaitu:

a). Y = 0 yang berarti alarm diam.

b). Y = 1 yang berarti alarm menyala. 


Syarat agar alarm berbunyi:




Selain kondisi di atas, nilai logika alarm ( Y ) adalah “0”, maka tabel kebenaran dapat dibuat untuk 3 variabel masukan dan 1 variabel keluaran.Tabel kebenaran:



Langkah 4: Penyederhanaan fungsi alarm



Langkah 5: Implementasikan ke dalam rangkaian logika




A. Komparator

Komparator merupakan suatu rangkaian logika yang mempunyai fungsi untuk membandingkan inputan dari keadaan logika. Jenis komparator biner terdiri dari :

1). Non-Equality Comparator

Merupakan rangkaian logika yang akan memberikan keadaan keluaran tinggi jika keadaan masukan-masukannya berbeda. Berikut tabel kebenaranya:

Berdasarkan tabel kebenaran dapat dibuat persamaan keluarannya:

a). Bentuk SOP  :  X = A¯ B + A B¯ atau X (A,B) = ∑m (1,2)

b). Bentuk POS : X = (A + B) ( A¯ + B¯ ) atau X(A,B) = ΠM (0,3)

Pada kasus di atas, Apabila dilakukan operasi komplemen ganda dan penggunaan teori De’ Morgan, maka akan didapatkan suatu gerbang NAND dan NOR.

a). Bentuk NAND didapat dengan cara sebagai berikut :


b). Bentuk NOR didapat dengan cara sebagai berikut :





Rangkaian non-equality comparator dapat diimplementasikan pula dengan gerbang EX-OR, dengan persamaan logikanya X = A  B.

Simbolnya:



2). Equality Comparator

Rangkaian logika yang akan memberikan keadaan keluaran tinggi jika keadaan masukannya sama.

Tabel Kebenaran :

 

 

Berdasarkan tabel kebenaran dapat dibuat persamaan keluarannya :

a). Bentuk SOP :  X = A¯ B¯ + AB atau X(A,B) = Σm (0,3)

b). Bentuk POS : X = (A + B¯ ) ( A¯ + B) atau X(A,B) = ΠM (1,2)

Pada kasus diatas, jika dilakukan operasi komplemen ganda dengan menggunakan teori de’ Morgan, maka dapat diperoleh suatu bentuk gerbang NAND dan NOR.

1. Bentuk NAND didapat dengan cara sebagai berikut :


2. Bentuk NOR didapat dengan cara sebagai berikut :


Rangkaian equality comparator dapat diimplementasikan pula dengan gerbang EX- NOR, dengan persamaan logikanya X = A Θ B

Simbolnya:






Referensi:

  • Sugiartowo, Sitti Nurbaya Ambo. 2018. SIMULASI RANGKAIAN KOMBINASIONAL. Jakarta Pusat: Universitas Muhammadiyah Jakarta
  • Indrawaty, Y., Kristina, L., & Nugraha, S. (2012). Aplikasi Pembelajaran Rangkaian Kombinasional Multimedia Interaktif Model TimelineTree. Jurnal Itenas  
  • https://gustibgsbayu.medium.com/sistem-digital-rangkaian-kombinasional-encoder-1d4e6752cd2a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KKN Hari Ke-7

 Kegiatan hari ini dimulai dengan semangat pagi yang segar. Pukul 7 pagi, kami sudah mulai bersih-bersih posko Hingga jam 10an Menjelang sia...